Hidup

Salah satu harapanku akhirnya tercapai, yaitu punya KTP. Buat yang pernah baca tulisanku pasti tau, ini adalah sebuah harapan yang sering aku sebut di blog ini. Tepatnya di tanggal 20 Februari 2023, aku udah bener-bener resmi punya sebuah kartu identitas.

Rasanya? Jujur, biasa aja. Seneng dikit, sih, tapi yaaa, udah gitu. Ibarat lagi pengin makan Cilok, ehh, kebetulan banget ada Kang Cilok lewat depan rumah. Beli dong. Dimakan. Seneng. Kenyang. Udah, selesai, apa yang dipengin udah terpenuhi, alias kesenangannya cuma waktu ketika makan doang. Tapi, semua ini bukan tentang Cilok. Malah setelah kenyang jadi muncul sebuah pertanyaan ke diri sendiri, “Terus abis punya KTP mau ngapain?”

Tentu aja abis punya KTP langsung pamer ke sosial media, lahhh, gila, yang bener aja lo! Seluruh dunia harus tau, coy! “KTP baru, nih, Bos! Sengghol dhonggg! 🤪

Enggak, sih, aku nggak nulis caption gitu. Ya, kali. Norak, kocak! Lupa juga kemarin nulis caption apa. Intinya pamer, lah.

Hidup
Hidup

Oke, balik ke pertanyaan di atas. Sayangnya, sih, pertanyaannya bukan sebatas untuk jawaban receh gitu doang, tapi lebih ke arah, “Abis ini tujuan hidup mau ke mana?”

Setelah punya KTP aku merasa kehilangan diri sendiri karena hidup nggak ada kurikulumnya lagi. Aku tiba-tiba ditodong sebuah tanggung jawab untuk menentukan ke mana arah tujuan hidup selanjutnya. Sebelum punya KTP aku masih punya alasan kenapa aku nggak bisa menjawab pertanyaan di atas, tapi untuk sekarang alasan itu udah nggak berlaku lagi.

Nggak dapat dipungkiri, sekarang aku nggak atau belum punya tujuan hidup yang jelas. Bingung apa yang harus aku lakukan supaya hidupku ada—seenggaknya sedikit—perubahan. Kerja masih di tempat yang sama, karir masih sama, penghasilan masih sama, keadaan hidup masih sama, dan juga kegiatan sehari-hari masih sama. Pokoknya gitu-gitu aja, deh.

Sebenarnya bukan nggak ada tujuan hidup sama sekali, ada, tapi aku nggak tau caranya untuk ke sana dan takut kalau nanti ujung-ujungnya gagal. Sedangkan keadaan hidupku sekarang nggak cukup baik untuk menanggung kegagalan yang aku alami nanti.

Hadeh.. Rasanya nggak enak banget ketika hidup hanya berputar di situ-situ aja. Hidup ini jadi nggak ada artinya lagi ketika nggak ada suatu hal yang digapai atau sebuah harapan yang tercapai. Adanya rasa takut ini yang membuat aku nggak bisa menikmati menjalani hidup sepenuhnya. Nggak gampang jadi orang yang bisa biasa-biasa aja sama masa depan, yang nggak takut-takut amat, atau sampai bodo amat.

Aku kadang iri sama orang-orang yang punya rasa nggak harus mengejar sebuah tujuan dalam hidup. Kayak hidup tinggal hidup aja. Menikmati hari tanpa dihantui pertanyaan besar harus ngapain, harus ke mana, dan harus melakukan apa. Ikut seneng kalau ada orang-orang yang kayak gitu.

Memang, hidup bukanlah sebuah kompetisi. Hidup kita juga nggak harus sama dengan orang lain karena setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing. Tapi, kalau di umurku yang sekarang aku belum jadi apa-apa, aku ngerasa takut di tahun-tahun selanjutnya hidupku masih sama aja. Aku takut hidupku selamanya hanya dihantui dengan pertanyaan-pertanyaan yang nggak bisa aku jawab. Aku takut sampai akhir hayatku nanti aku masih belum bisa menikmati menjalani hidup sepenuhnya.

Sebentar lagi umurku mau menginjak 25 tahun. Mungkin sekarang aku lagi ada di fase quarter life crisis. Mungkin. Semoga aja semua ketakutan yang aku rasa hanya sebatas perasaan, nggak akan benar-benar kejadian. Semoga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *