Keresahan

Begitu lulus sekolah, aku jadi lebih sering menghabiskan waktu di dalem kamar. Selain memang waktu itu baru aja lulus, aku juga nggak bisa cari kerja. Bukan karena aku males cari kerja atau nggak mau cari kerja, tapi karena aku belum punya KTP. Dari tulisan 2020 yang waktu itu aku tulis dan tahun udah mau ganti ke tahun 2023, resolusi yang harusnya terkabul tahun 2021 itu belum juga terkabul sampai sekarang. Untungnya aku dapet kerjaan yang nggak butuhin KTP.

Aku nggak akan bahas soal kenapa aku belum punya KTP di sini, ceritanya panjang. Doain aja semoga tahun depan aku udah punya KTP, amin.

Jogja National Museum, 2022
Jogja National Museum, 2022

Sebagai orang yang jarang main bahkan keluar rumah, kamar udah jadi tempat bermain dan tempat berkontemplasi buat aku. Merenungkan apa sebenarnya arti kehidupan, mengeluhkan soal kekurangan yang dimiliki, memikirkan masalah karir dan masa depan.

Masa depan adalah salah satu hal yang sering banget aku pikirin. Dulu aku pernah sampai buat tulisan tentang masa depan—yang udah aku masukin draft—di blog ini, karena hal itu yang masih jadi keresahanku dari dulu sampai sekarang.

Keresahan dan ketakutanku soal masa depan jadi berdampak ke kehidupan percintaanku.

Dalam sebuah hubungan, aku bukan orang yang suka main-main. Aku orang yang selalu mikir jangka panjang. Bahkan bukan cuma sampai ke pernikahan, tapi sampai kita berdua nggak ada lagi di dunia.

Percaya deh, patah hati dan harus mulai hubungan sama orang baru semua dari awal adalah hal yang capek banget buat dijalanin. Makanya aku cukup antisipasi buat memulai hubungan. Dengan value yang aku punya sekarang kayaknya nggak cukup buat bukti kalau aku bisa ngasih masa depan yang jelas. Aku nggak mau hubungannya berhenti di tengah jalan dan cuma buang-buang waktu pasanganku doang.

Aku punya penyesalan di masa lalu yang buat aku jadi mikir kayak gini. Aku pernah janji ke seseorang tapi aku nggak bisa nepatin. Aku ngerasa cuma buang-buang waktu dia dan kecewain dia. Iya betul, masa lalu memang nggak bisa aku ubah, tapi seenggaknya aku jadi dapet pembelajaran berharga dan membuat aku jadi diri aku yang sekarang. Mau bagaimanapun juga semuanya udah terlanjur terjadi.

Masa depan sebenarnya bukan masalah satu-satunya yang bikin aku takut buat memulai hubungan. Keadaan keluarga, keadaan ekonomi dan strata sosial juga jadi penyebabnya. Misalnya ketika cewek yang aku taksir itu lahir dari keluarga yang berada atau punya karir yang lebih mapan dari aku. Aku ngerasa dengan value yang aku punya sekarang aku nggak pantes buat disandingin sama mereka.

Itulah kenapa keadaan ekonomiku sekarang juga yang jadi peranan penting kenapa aku punya ketakutan dengan masa depan.

Terlahir dari keluarga menengah ke bawah bikin aku sadar. Semua yang aku pengin nggak bisa langsung didapat, malah sering kali juga nggak bisa terwujud. Banyak juga peluang dan kesempatan yang terhalang hanya karena alasan ekonomi. Aku juga harus kerja keras dua kali lipat supaya bisa dapet kehidupan yang aku mau. Kehidupan di mana aku ngerasa bebas dan aman.

Banyak orang yang bilang, “Money can’t buy happiness.” Menurutku itu cuma omong kosong doang. Justru uang adalah pintu untuk menuju kebahagiaan. Membebaskan kita untuk beli apa pun yang kita mau, membiayai keluarga, memberikan mereka makanan yang layak, membayar tagihan rumah sakit, beli asuransi. Gimana semua itu nggak bikin kita bahagia? Memiliki rasa bebas dan aman soal finansial adalah sebuah kebahagiaan.

Mau gimana lagi, kita kan nggak bisa milih mau dilahirkan di keluarga yang kayak gimana. Kita juga nggak bisa milih jalan hidup kita mau kayak gimana, mungkin bisa. Tapi yang harus diingat kalau jalanin hidup itu nggak selalu sesuai keinginan kita, pasti ada aja halangan dan rintangan yang memang udah ditakdirkan ada. Sama halnya ketika aku nggak bisa cari kerja aku terhalang KTP, ketika aku nggak bisa nepatin janji aku terhalang keadaan ekonomi, dan ketika aku takut buat memulai hubungan aku terhalang strata sosial.

Harus diakui kalau kita hidup berdampingan dengan halangan dan rintangan. Bukan tanpa alasan, supaya kita bisa belajar dari kesalahan, belajar dari masa lalu, belajar menghadapi halangan dan rintangan itu. Anggap aja ini semua adalah proses kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Tunggu dulu, kayaknya tujuan awal nulis tulisan ini buat ngeluh doang, kenapa malah jadi sok ngasih nasehat hidup gini. Padahal hidup diri sendiri juga belum bener. Udahlah, sekian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected!!